
KOLAKA,MUIKolaka- Ketua Umum (Ketum) Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kolaka, K.H. Muhammad Duwana Said mengungkapkan bahwa warisan paling berharga orang tua untuk anaknya adalah ilmu Agama, dibandingkan warisan harta.
“Investasi besar bagi kita adalah anak. Adapun warisan yang paling berharga yang ditinggalkan orang tua pada anaknya adalah ilmu Agama,” kata KH. Muhammad Duwana Said pada acara penyerahan perwalian santri Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Baiturrahim Kolaka, Senin (6/7/2026) di gedung Al-Furqon PPTQ.
Pimpinan PPTQ Baiturrahim Kolaka menegaskan warisan ilmu merupakan yang terbaik dibanding harta, sebab begitu banyak anak yang mendapat warisan harta dari orang tuanya, tapi tidak mampu menjaga nama baik orang tuanya ketika wafat. Sebaliknya ada orang tua dari sisi ekonomi tidak mapan, tapi dia cerdas dengan mewariskan ilmu agama pada anaknya, maka jadilah orang tua itu terhormat dan terpandang, dikenang namanya karena anaknya menjaga nama baik orang tua setelah mereka meninggal dunia.
Kyai Duwana mengungkap sebuah fakta yang dialami seorang imam masjid di Kolaka. Jika dilihat dari penghasilannya sebagai imam dan kebunnya yang tidak luas, mustahil akan kaya. Namun anak-anaknya dikirim ke Pondok Pesantren menimba ilmu agama. Begitupun anak-anaknya tahu diri melihat kondisi orang tuanya yang kurang mampu dengan belajar giat. Alhasil buah dari kesabaran mereka dibalas dengan keberhasilan mereka baik sebagai Dai, ASN bahkan pejabat disalah satu instansi pemerintah di Sulawesi Selatan, serta cucunya saat ini kuliah di Australia.
“Belum lama saya ketemu dengan pak imam. Dia tidak pernah bayangkan ilmu yang diwariskan pada anak itu, begitu berharga dikemudian hari. Karena itu, anak yang kita antar hari ini, berapa tahun kedepan akan menjadi sukses dan membanggakan orang tuanya,” katanya.

Mantan Ketua PC Nahdatul Ulama Kabupaten Kolaka ini mengungkapkan, penyerahan perwalian menjadi momentum bersejarah bagi santri dan orang tua, guna mengawali perjalanan pendidikan anak untuk lebih mengenal Al-Quran, sekaligus menjalani proses pendidikan di PPTQ Baiturrahim. Dia sadar begitu berat harus berpisah dengan anak yang masih harus kasih sayang. Namun jika orang tua salah jalan memberikan pendidikan pada anak, maka akan menyesal seumur hidup.
“Tangisan kita hari ini akan menjadi catatan kebaikan dihadapan Allah kelak di akhirat. Begitu banyak anak yang rusak akibat narkoba, dan meninggalkan utang yang banyak bagi orang tuanya akibat judi online,” kata KH Muhammad Duwana Said.
Sementara Direktur Pendidikan Baiturrahim Islamic Boarding Schooll (BIBS), Dr. Ahmad Tanaka,MPd mengatakan, BIBS PPTQ Baiturrahim Kolaka melaksanakan pemetaan bakat dan program unggulan atau Talent Mapping dan Excellence Program (B-TMEP) yang merupakan sistem pemetaan, analisis, dan pengembangan potensi santri.
“B-TMEP ini kami rancang dan kembangkan sebagai landasan dalam penyusunan program pembinaan yang lebih personal, terarah, dan berkelanjutan sesuai karakteristik setiap santri,” kata Ketua Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Kolaka ini.
Sebagai perancang dan pengembang B-TMEP, Dr Ahmad Tanaka mengungkapkan, pihaknya juga mengeluarkan laporan Psikopedagogik Individual santri yang disusun sebagai panduan bagi orang tua, guru, dan pembina dalam mengenali potensi, memahami karakter belajar, serta mengarahkan pengembangan akademik, karakter, dan prestasi santri sesuai keunikan yang Allah anugerahkan kepada setiap anak.
Salah satu orang tua santri, Heraeni mengaku senang dan tenang memasukan putrinya di PPTQ Baiturrahim, sebab kehidupan pondok dapat mendisiplinkan anaknya, terutama pembinaan akhlak ditengah kehidupan saat ini yang semakin memprihatinkan bagi generasi muda.
“Memasukan anak untuk dibina di pondok, khususnya di PPTQ Baiturrahim adalah pilihan yang tepat buat kami,” kata Heraeni. (*)

