Hijrah Spiritual dan Dekonstruksi Adab: Menyelamatkan Generasi Emas Indonesia

Berita, Opini25 views
banner 950x250

Oleh: Saleh Sutrisna

-Wakil Sekretaris DP MUI Kolaka 

-Dosen Tetap Universitas Sembilanbelas November Kolaka

“Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H. Momentum pergantian tahun ini sejatinya adalah alarm keras bagi kita semua. Di tengah ambisi besar menuju Indonesia Emas, ada realitas memprihatinkan tentang krisis moral dan spiritual yang sedang menggerogoti generasi muda kita. Sebagai akademisi, ini catatan refleksi saya mengenai urgensi ‘Hijrah Nasional’ untuk merebut kembali kedaulatan adab pelajar dan mahasiswa kita. Selamat membaca.”

Momentum 1 Muharram 1448 Hijriah di tahun 2026 ini bukan sekadar pergantian kalender. Ia adalah alarm darurat bagi peradaban kita. Di tengah gemerlap digitalisasi, Indonesia menghadapi paradoks besar: ambisi menuju “Indonesia Emas” yang kontras dengan potret degradasi moral generasi mudanya.

Hari ini, kita menyaksikan krisis spiritualitas yang akut. Pelajar dan mahasiswa, yang seharusnya menjadi episentrum intelektual, justru terjebak dalam pusaran anarki digital. Maraknya judi online, perundungan siber, hingga runtuhnya sekat kesantunan akademis adalah bukti nyata kekosongan jiwa (spiritual emptiness). Adab terhadap pendidik mengikis, digantikan oleh budaya instan yang tuna-etika. Sebagai akademisi Agama dan Bimbingan Konseling, saya melihat ada jangkar nilai yang patah.

Padahal, mereka adalah pemegang saham utama masa depan Nusantara. Di pundak merekalah harapan keluarga, masyarakat, dan negara dipertaruhkan. Jika bonus demografi ini dibiarkan tumbuh tanpa kompas moral, kita tidak sedang menjemput masa. depan yang gemilang, melainkan bencana demografi yang kelam.

Solusinya tidak bisa lagi sekadar formalitas angka di atas kertas. Kita butuh rekonstruksi kurikulum kehidupan. Pendidikan agama harus dikembalikan khittahnya sebagai pembentuk perilaku, bukan sekadar hafalan materi ujian. Pendekatan bimbingan konseling berbasis psikospiritual harus diperkuat di kampus dan sekolah untuk memulihkan kesehatan mental generasi yang rapuh ini.

Indonesia tidak akan pernah jaya hanya dengan kecerdasan kognitif yang kering dari spiritualitas. Mari jadikan tahun baru Islam ini sebagai momentum “Hijrah Nasional”. Sebuah gerakan kolektif untuk mendekonstruksi moral dan mengembalikan kedaulatan adab demi kejayaan umat dan keagungan bangsa.

Anatomi Krisis: Nestapa Moral dan Spiritual Generasi Digital

Wajah pendidikan kita hari ini sedang dirundung kecemasan pasang surut moralitas. Di balik kepiawaian jemari Generasi Z dan Alpha mengadopsi teknologi, terbentang potret degradasi adab yang kian memprihatinkan. Ruang akademik yang semestinya sakral kini ternoda oleh maraknya judi online, perundungan siber yang brutal, hingga runtuhnya rasa takzim kepada para pendidik.

Dari kacamata psikospiritual dan bimbingan konseling, fenomena ini adalah sinyal akut dari kekosongan jiwa (spiritual emptiness). Jagat digital perlahan menggeser posisi agama sebagai kompas moral. Akibatnya, ketika ruang siber yang riuh menggantikan ketenangan zikir, kesehatan mental remaja kita rapuh, memicu lonjakan angka depresi nasional.

Lahir pula anarki digital yang merusak tatanan sosial. Kesantunan khas ketimuran kian tergerus oleh toksisitas media sosial. Budaya tabayyun atau verifikasi informasi mati muda, digantikan oleh syahwat menghakimi demi konten instan. Jika dibiarkan, tahun baru Islam ini hanya akan menjadi saksi hilang nya kemilau moral masa depan Nusantara.

Jutaan pelajar dan mahasiswa yang hari ini memadati ruang kelas adalah pemegang saham utama masa depan Nusantara. Mereka bukan sekadar angka statistik, melainkan poros harapan tempat arah peradaban Indonesia dipertaruhkan.

Namun, ada tiga matra beban moral yang kini bergelayut di pundak rapuh mereka. Secara vertikal, mereka adalah lentera harapan keluarga demi memutus mata rantai keterpurukan. Secara sosial, mereka dituntut menjadi agen kontrol masyarakat yang peka. Secara nasional, negara menanti mereka tegak memimpin birokrasi dan industri masa depan.

Kini, sebuah lonceng peringatan keras harus dibunyikan. Jika kualitas moralitas mereka terus merosot, mimpi besar meraih bonus demografi akan melesat menjadi bencana demografi yang mengerikan. Kebangkrutan karakter adalah hulu dari segala kehancuran bangsa. Membiarkan mereka bertumbuh tanpa kompas spiritual sama saja dengan menyerahkan kemudi Indonesia Emas ke dalam kegelapan nirmoral.

Menyelamatkan generasi dari jurang kebangkrutan moral menuntut sebuah revolusi radikal dalam sistem pendidikan kita. Kita tidak lagi bisa bertahan dengan pola lama yang usang. Sudah saatnya melakukan reposisi total terhadap pendidikan agama di seluruh lembaga pendidikan di Indonesia. Pengajaran agama harus segera dikeluarkan dari jebakan formalitas nilai kognitif-angka-angka beku di atas kertas ujian-menuju internalisasi adab yang nyata dalam perilaku sehari-hari. Agama harus menjelma menjadi ruh yang menggerakkan kesantunan, bukan sekadar hafalan yang mendatangkan pujian semu.

Seiring dengan itu, urgensi penguatan sistem Bimbingan Konseling (BK) komprehensif menjadi mutlak dilakukan di sekolah dan kampus. Melalui pendekatan BK yang diintegrasikan dengan nilai-nilai spiritualitas keagamaan yang mendalam, kita dapat memulihkan kesehatan mental generasi muda yang kian rapuh diterpa badai zaman. Sentuhan konseling psikospiritual ini akan menjadi oase yang menenangkan jiwa, menyembuhkan kekosongan spiritual, sekaligus menuntun mereka kembali menemukan kompas hidup yang sejati demi kejayaan masa depan kebangsaan.

Pada akhirnya, kita harus berani menatap cermin kebangsaan kita dengan jujur dan tegas. Visi besar Indonesia Emas di tahun 2045 tidak akan pernah menjadi kenyataan yang megah jika generasi mudanya dibiarkan mengalami pembusukan moral (moral decay) pada hari ini, di gerbang tahun 2026. Fondasi sebuah bangsa yang merdeka tidak melulu ditegakkan di atas pilar ekonomi yang kokoh ataupun megahnya infrastruktur digital yang canggih. Kemajuan materi tanpa dibarengi oleh keluhuran budi pekerti hanyalah sebuah fatamorgana yang menanti waktu untuk runtuh dan sirna.

Oleh karena itu, mari kita jadikan momentum suci 1 Muharram 1448 Hijriah ini sebagai sebuah tonggak bersejarah bagi kebangkitan adab nasional. Ini adalah seruan reflektif dan panggilan jiwa bagi seluruh elemen bangsa-mulai dari lingkungan terkecil keluarga, institusi pendidikan, hingga pembuat kebijakan-untuk bersatu padu melakukan gerakan hijrah spiritual yang nyata. Kita harus bergegas merebut kembali kedaulatan moral generasi muda kita. Hanya dengan komitmen kolektif inilah, kita dapat melahirkan sebuah peradaban Indonesia baru yang tidak sekadar maju dan berkilau secara materi, melainkan juga tumbuh agung, damai, dan bermartabat secara spiritual.

Tinggalkan Balasan