Ramadhan: Jamuan Ilahi bagi Jiwa yang Rindu Oleh : Saleh Sutrisna

Berita, Dakwah52 views
banner 950x250
Wakil Sekretaris MUI Kolaka

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin. Segala puji bagi Allah ﷻ yang masih mempertemukan kita dengan bulan penuh cahaya, bulan yang di dalamnya langit dibuka, rahmat diturunkan, dan ampunan dihamparkan. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Setiap tamu yang datang ke rumah kita membawa dua kemungkinan: ia bisa datang sebentar tanpa kesan, atau ia datang membawa keberkahan dan meninggalkan kenangan mendalam. Maka hari ini, kita berbicara tentang Ramadhan sebagai tamu istimewa—tamu agung yang datang hanya sekali dalam setahun, membawa hadiah dari langit, tetapi seringkali kita tidak menyambutnya dengan kesiapan hati.

Allah ﷻ berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah: 183)

Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah madrasah ruhani, tempat jiwa ditempa, tempat hati dibersihkan, dan tempat iman ditinggikan derajatnya. Tujuan akhirnya adalah takwa—sebuah kondisi hati yang selalu merasa diawasi Allah, dicintai Allah, dan takut untuk jauh dari-Nya.

Ramadhan: Tamu yang Membawa Rahmat

Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila datang bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Muhammad dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim).

Betapa agungnya tamu ini. Ia datang bukan dengan tangan kosong. Ia membawa pembebasan dari api neraka, ia membawa malam yang lebih baik dari seribu bulan, ia membawa kesempatan penghapusan dosa.

Dalam hadits lain Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim)

Ampunan adalah hadiah terindah. Sebab sejatinya manusia bukan makhluk tanpa salah, tetapi makhluk yang diberi kesempatan untuk kembali. Ramadhan adalah panggilan pulang. Ia mengetuk pintu hati kita dan berbisik: “Masihkah engkau ingin jauh dari Tuhanmu?”

Menyambut Ramadhan dengan Hati, Bukan Sekadar Tradisi

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Banyak orang menyambut Ramadhan dengan persiapan fisik menyiapkan makanan, pakaian, dan jadwal berbuka. Namun pertanyaannya, sudahkah kita menyiapkan hati?

Ramadhan adalah tamu mulia. Dan tamu mulia tidak akan singgah lama di hati yang kotor oleh iri, dengki, sombong, dan cinta dunia berlebihan.

Allah ﷻ berfirman: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Surah Al-Baqarah: 185).

Ramadhan dan Al-Qur’an adalah dua cahaya yang tidak terpisahkan. Jika kita ingin Ramadhan bermakna, maka dekatkan diri dengan Al-Qur’an. Bukan hanya membacanya, tetapi mentadabburinya. Bukan hanya melantunkannya, tetapi mengamalkannya. Sebab Ramadhan tanpa Al-Qur’an ibarat tubuh tanpa ruh.

Ramadhan: Momentum Transformasi Diri

Ramadhan adalah bulan perubahan. Ia mengajarkan kita bahwa manusia mampu menahan yang halal demi ketaatan kepada Allah. Jika yang halal saja bisa kita tinggalkan karena Allah, maka mengapa yang haram masih kita pertahankan?

Puasa melatih kesabaran. Lapar mengajarkan empati. Haus mengingatkan penderitaan saudara-saudara kita. Malam-malamnya mengajarkan kekhusyukan. Siang harinya melatih keikhlasan.

Rasulullah ﷺ adalah manusia paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan. Kedermawanan itu bukan hanya dalam harta, tetapi dalam senyum, dalam doa, dalam kebaikan.

Ramadhan mengajarkan kita bahwa kemuliaan bukan terletak pada apa yang kita miliki, tetapi pada apa yang kita berikan.

Jangan Biarkan Ramadhan Berlalu Tanpa Perubahan

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Ramadhan adalah tamu yang tidak lama tinggal. Ia datang dengan lembut, dan ia pergi dengan meninggalkan pertanyaan: “Apa yang telah kau peroleh dariku?”

Betapa banyak orang yang bertemu Ramadhan tahun lalu, namun hari ini telah berada di alam kubur. Maka jika hari ini kita masih diberi kesempatan, itu bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi undangan khusus dari Allah.

Jangan biarkan Ramadhan hanya mengubah jadwal makan kita, tetapi tidak mengubah akhlak kita. Jangan biarkan ia hanya mengurangi berat badan kita, tetapi tidak mengurangi dosa-dosa kita.

Jadikan Ramadhan sebagai titik balik. Jika sebelum Ramadhan kita jauh dari masjid, maka dekatlah. Jika sebelum Ramadhan lalai dari Al-Qur’an, maka akrablah. Jika sebelum Ramadhan ringan berbuat dosa, maka bertaubatlah.

Karena belum tentu kita akan bertemu Ramadhan berikutnya.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Sambutlah Ramadhan sebagai tamu istimewa. Layani ia dengan iman, muliakan ia dengan amal, dan lepaskan ia dengan air mata harapan.

Semoga kita termasuk hamba-hamba yang keluar dari Ramadhan dalam keadaan bersih, diampuni, dan dicintai Allah ﷻ. Semoga Ramadhan kali ini bukan sekadar ibadah musiman, tetapi awal perjalanan menuju ketakwaan sejati.

Akhirnya Kita Berdo’a :

Ya Allah, sampaikan kami ke Ramadhan dan bantulah kami untuk berpuasa dan menegakkan malam-malamnya.

Billahi Taufiq Wal Hidayah, Fastabiqul Khaerat

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Tinggalkan Balasan